ARGOWULAS

ARGOWULAS Class of 1991

Posted by admin On October - 21 - 2015

1-1

Hai teman-teman..beberapa waktu lalu kita sempat ngobrol di grup tentang hipertensi ya..mungkin kalo di grup kurang jelas, saya coba bikin tulisan yang bisa dibaca untuk sekedar info mengenai hipertensi ini sekaligus buat saya latihan nulis..masukan atau tambahan dari teman-teman semua sangat diharapkan karena sangat berharga..

Kita mulai dengan definisi dan pengertian dulu ya..hipertensi itu berasal dari kata hiper yang artinya lebih, dan tensi yang artinya tekanan. Dalam hal ini yang dimaksud tekanan adalah tekanan darah. Tekanan darah sendiri adalah tekanan yang dialami oleh pembuluh darah dalam fungsi sirkulasi darah di seluruh tubuh. Seperti yang kita ketahui dari pelajaran fisika yang diajarin oleh alm pak Lasmadi, pak Ayub, dan guru-guru fisika kita lainnya dulu, tekanan itu dipengaruhi oleh faktor pembuluh darah atau salurannya, dan faktor darah sebagai zat yang terdapat di dalam saluran tersebut.

2Faktor pembuluh darah yang dapat meningkatkan tensi misalnya kekakuan pembuluh darah, biasanya terjadi pada usia lanjut. Pada lansia, seperti halnya seluruh sel tubuh yang mengalami proses aging, terjadi juga proses aging atau penuaan ini, sehingga sifat dan fungsinya mengalami penurunan, termasuk sifat fleksisbilitasnya. Kenapa sih pembuluh darah kalo ngga fleksibel jadi bikin tensi meningkat? Kondisi tubuh manusia selama hidup selalu berubah dari waktu ke waktu, sehingga selalu butuh penyesuaian supaya semua organ dapat berfungsi optimal, tujuannya ya supaya tubuh selalu dalam keadaan ‘baik-baik saja’. Kalo pembuluh darah tidak fleksibel, jadinya saat harus melar ga bisa melar. Kalo terjadi peningkatan di dalam pembuluh kan harusnya pembuluh darah melar supaya tekanannya ga ikutan meningkat, nah jika kemampuan melar itu berkurang maka tekanan ga bisa disesuaikan alias tetap tinggi..

Selain fleksibilitas, diameter pembuluh darah juga ngaruh dalam hipertensi ini. Misalnya terjadi plak atau timbunan lemak di dinding pembuluh darah yang insyaallah nanti kita bahas lebih lanjut di kesempatan lain.

Nah kalo faktor darah atau isi pembuluh pasti teman-teman sudah paham bagaimana bisa bikin tekanan darah jadi tinggi kan ya…

3Kalo dari tinjauan sistem organ, tekanan darah itu dipengaruhi sistem pembuluh darah dan sistem jantung. Lho kok sampe jantung segala??

Darah, supaya bisa terus ngalir kan butuh ada tekanan..tekanan dari mana? Selain dari faktor pembuluh dan darah, kudu ada yang ‘mendorong’ kan..secara fisika kita tau bahwa aliran itu terjadi karena perbedaan tekanan. Tekanan dalam hal ini diperankan oleh ‘dorongan’ jantung. Tiap kali jantung berdenyut, akan dipompa sejumlah darah keluar dari jantung, memasuki pembuluh darah besar, kemudian akan sampai di pembuluh darah kecil, trus sampailah di organ-organ seluruh tubuh, masuk ke organ-organ tersebut.

Makin besar tekanan akibat denyutan jantung, makin besar pula tekanan darah di dalam pembuluh darah. Apa saja yang membuat tekanan denyut jantung itu besar? Ternyata ada banyak hal meliputi fisik maupun mental.

Keadaan fisik apa sih yang bisa meningkatkan tekanan denyut jantung? banyak sih..tapi biar mudah kita pilah ya…

  1. Keadaan fisik normal..misalnya aktivitas fisik yang tinggi seperti olah raga atau kegiatan lain akan meningkatkan denyut jantung, dengan sendirinya akan meningkatkan tekanan darah.
  2. Keadaan fisik tidak normal..ini ada banyak
  • Nyeri, ini akan memicu saraf pusat untuk meningkatkan tekanan darah
  • Penyakit pembuluh darah, seperti atherosclerosis (insyaallah akan kita bicarakan terpisah), angiopati (kerusakan pembuluh darah, yang dapat merupakan komplikasi lanjut DM; insyaallah akan kita bicarakan lebih lanjut saat membahas DM), dan lain lain
  • Penyakit darah, misalnya pada pasien hiperkoagulasi, leukemia, dll
  • Penyakit jantung
  • Penyakit ginjal
  • penyakit metabolik (insyaallah akan kita bahas terpisah)
  • badan berlebih atau obesitas
  • gangguan sistem saraf
  • penggunaan zat atau obat tertentu berat
  • kelainan genetik yang menimbulkan hipertensikeadaan mental yang berpengaruh pada tekanan darah misalnya rasa takut, panik, stress ini akan bikin tensi jadi meningkat.Apa sih tandanya kalo kita mungkin mengalami hipertensi? Kita perlu curiga mengalami peningkatan tekanan darah jika mengalami nyeri kepala, bisa berupa rasa seperti kepala berputar, mual, nyeri hebat, tengkuk terasa berat….namun sayangnya tidak selalu muncul gejala atau keluhan itu. Hipertensi yang tidak disertai gejala inilah yang justru mengkhawatirkan, karena tidak ada warning dari tubuh bahwa tensi kita sedang tidak normal. Bahwa sedang terjadi suatu keadaan yang tidak baik di dalam tubuh. Namun demikian kita bisa mewaspadai diri sendiri jika tengah mengalami faktor risiko yang telah disebutkan di atas.Menurut kesepakatan organisasi profesi medis internasional, seperti konsensus pada JNC, ada beberapa kriteria untuk seseorang disebut mengalami hipertensi, tapi kita ambil yang sederhana aja ya..
  • Lalu berapa sih tekanan darah yang normal dan berapa yang dianggap tinggi?

Secara umum, tekanan darah normal itu 110-120/70-90mmHg. Apa sih artinya? Tekanan yang atas (normalnya 110-120 mmHg) kita sebut sebagai tekanan sistolik, ini adalah tekanan saat katup jantung menutup, artinya saat darah masuk ke bilik jantung. Tekanan yang bawah (normalnya 70-90mmHg), kita sebut dengan tekanan diastolic, adalah tekanan saat katup jantung terbuka, yaitu darah dipompa keluar dari bilik jantung menuju aorta (pembuluh darah besar). Dengan demikian idealnya tekanan darah kita harus dalam kisaran itu baik sistolik maupun diastoliknya.

Apakah di atas batas normal itu langsung disebut mengalami hipertensi? Disebut mengalami peningkatan tekanan darah iya, tapi untuk sampai pada diagnosis ‘penyakit hipertensi’ ga bisa sesederhana itu. Seseorang untuk dapat didiagnosis mengalami ‘penyakit hipertensi’ harus melalui beberapa tahapan pemeriksaan.

Pemeriksaan pertama adalah pengukuran tensi menggunakan tensimeter, idealnya pake yang menggunakan air raksa (tensimeter yang gede, biasanya ada di tempat praktek dokter) dalam keadaan rileks, telentang, dan bebas kopi serta rokok selama 3 hari. Kalo hasilnya tinggi, dilakukan pemeriksaan menyeluruh untuk mengetahui adanya riwayat penyakit keluarga, penyakit lain, dan faktor risiko penyakit hipertensi.

Jika sudah tegak diagnosis hipertensi, pasien pun tidak langsung diterapi menggunakan obat melainkan modifikasi gaya hidup dulu selama 3-6 bulan. Diharapkan dengan modifikasi gaya hidup itu, tensi dapat kembali ideal tanpa obat. Jika tidak berhasil dicapai tensi ideal hanya dengan menggunakan modifikasi gaya hidup baru diresepkan obat..inipun single drug dulu. Kalo dengan obat tunggal ngga berhasl membaik juga, baru digunakan kombinasi obat. Obat hipertensi ini banyak jenisnya, dan sesama pasien hipertensi walaupun tensinya sama, bisa saja mendapatkan obat yang berbeda karena faktor penyebab hipertensinya berbeda. Intervensi hipertensi menggunakan obat dapat melalui berbagai jalur dan mekanisme kerja obat yang berbeda. Penentuannya tergantung kondisi pasien yang diperoleh dari pemeriksaan lengkap sebelumnya serta respon tiap pasien terhadap obat. Baiklah, kurasa kita ga perlu membahas terlalu jauh tentang pemilihan obat tensi yang paling tepat ini karena terlalu rumit dan biarlah ini menjadi tugas dokter saja.. J

Kenapa sih ga boleh langsung pake obat penurun tensi aja? Kenapa harus ribet banget untuk nentuin seseorang itu butuh obat hipertensi atau tidak?

Untuk mendiagnosis seseorang mengalami hipertensi, memang harus teliti begitu..karena banyaknya hal yang dapat berpengaruh pada peningkatan tensi seperti dipaparkan di atas tadi. Bisa saja kan hanya keadaan normal yang bikin tensi naik…misalnya takut, atau capek, atau habis mengkonsumsi obat atau zat tertentu misalnya kopi….nah yang seperti itu kan ga perlu tensinya diturunkan dengan obat

Untuk sampai pada keputusan penggunaan obat juga ga bisa sembarangan karena banyak implikasi yang ditimbulkan oleh obat hipertensi. Pada dasarnya, obat itu digunakan karena ada kondisi yang menyimpang, yang dapat ‘diperbaiki’ dengan obat (insyaallah kita akan bahas lebih lengkap dalam topic Obat ya). Nah, hipertensi ini adalah keadaan menyimpang dari sistem yang vital (masih inget kan bahwa ada peran jantung dan saraf dalam tekanan darah..masih inget juga kan bahwa darah dan pembuluh darah itu mengair sampai ke seluruh organ tubuh kita..) sehingga akan banyak hal yang ikut terpengaruh dengan penggunaan obat nantinya. Jadi kalo sudah mantap kesimpulannya berdasar anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang seperti lab, ECG, dll baru diputuskan bahwa seseorang itu benar-benar butuh obat, supaya diperoleh manfaat yang besar dari penggunaan obat tersebut, dengan risiko mudharat atau kerugian yang minimal.

Apakah pasti akan terjadi kerugian—misalnya muncul efek samping–dengan menggunakan obat hipertensi? Kalo kita kembalikan lagi ke tujuan penggunaan obat tadi kan untuk memperbaiki penyimpangan sistem organ, tapi risiko tentu ada, karena selain obat terebut mempengaruhi banyak hal dalam tubuh, juga akan digunakan dalam jangka waktu yang sangat lama alias longlife. Tapiiiiiii kalo dibandingkan dengan risiko yang akan terjadi pada organ tubuh jika hipertensi tidak diterapi, tentu risiko akibat obat jauuuuuuhhhhh lebih ringan. Karena dengan penggunaan obat, hipertensi dapat dikendalikan, sehingga kerusakan organ diharapkan tidak terjadi.

Bisa dikurangi atau dihentikan gak sih penggunaan obat hipertensi ini? Nothing is impossible, namun harus dengan pertimbangan dan pengawasan dokter supaya tidak terjadi reaksi withdrawal. Apa itu reaksi withdrawal? Reaksi tubuh yang terjadi karena penghentian obat berupa penyimpangan seperti sebelum menggunakan obat namun dengan derajat yang lebih berat. Keadaan inilah yang dikhawatirkan kalo obat tensi dihentikan sendiri tanpa advis dokter..akibatnya, ya bisa dibayangkan bahwa kerusakan organ justru akan makin mengancam. Jadiiiiii kalo sudah diadviskan untuk menggunakan obat, tolong dipatuhi..kalo sudah membaik, pelan-pelan nanti akan dikontrol untuk penurunan dosis bahkan mungkin dapat dihentikan penggunaan obatnya.

Obat hipertensi tidak menimbulkan ketergantungan kok..tapi kenapa harus digunakan dalam waktu lama dan bisa bikin withdrawal kalo dihentikan? ya karena yang ‘diperbaiki’ adalah penyimpangan sistem yang vital dan rumit tadi..banyak faktor yang saling berpengaruh pada tensi atau tekanan darah.

Kalo kita milih untuk gak minum obat aja gimana? Sebenernya, dokter pun akan berusaha supaya ga perlu obat, makanya dilakukan pemeriksaan lengkap dulu sebelum diadvsikan obat kan… tapi kalo kondisi tubuh sudah tidak bisa dibiarkan tanpa obat, ya akan terjadi kerusakan organ sebagai akibat lanjut hipertensi. Apa sajakah itu? Banyak sih, yang jelas, organ tubuh yang dialiri darah (itu berarti hampir semua bagian tubuh, hingga ke bagian yang sangat kecil dan tak kasat mata ya) akan terus menerus dipaksa beradaptasi dengan tekanan darah yang tinggi tersebut. Saat kebutuhan adaptasi itu sudah melebihi kemampuan, maka organ yang bersangkutan akan mengalalmi gangguan fungsi. Adaptasi kan ditujukan agar fungsi tetap berjalan normal, tapi secara struktur anatomis maupun histologis maupun lingkungan biokimiawi internal justru terjadi perubahan dalam rangka penyesuaian itu. Nah, kemampuan adaptasi itu kan ada batasnya, jika sudah melebihi batas tersebut yang terjadi ya kerusakan organ dengan manifestasi berupa gangguan fungsi organ tersebut.

4

Contoh, di otak..tekanan darah yang tinggi terus meneus, akan memicu pembuluh darah melar berlebihan, hingga dapat terjadi robek sehingga terjadilah hemorrhagi atau pecahnya pembuluh darah otak…ini yang disebut dengan stroke hemoragi

Jika tekanan darah yang tinggi itu terus terjadi dan menimbulkan pecahnya pembuluh darah di jantung, yang terjadi adalah serangan jantung mendadak. Jika terjadi di ginjal,akan terjadi gagal ginjal akut, jika terjadi di hati atau liver, akan terjadi gagal hati akut. Jika terjadi di sistem mata, akan dapat menimbulkan kebutaan mendadak..

Tergantung di organ mana pembuluh darah mengalami robekan akibat tekanan darah yang berlebihan tingginya tersebut terjadi, di situlah kerusakan organ terjadi dan bermanifes sebagai

Jadi, dari paparan di atas saya harap dapat dipahami bahwa penggunaan obat hipertensi itu sangat diperlukan pada keadaan tertentu, yaitu ketika dari hasil pemeriksaan memang dinyatakan perlu penggunaan obat.

Bagaimana dengan penggunaan herbal, atau terapi alternatif lain? Insyaallah akan kita kupas lebih detil di topik Obat, tapi singkatnya, apapun yang Anda gunakan, tolong sampaikan pada dokter yang menangani anda. Karena selalu ada kemungkinan terjadi interaksi antara herbal atau moda terapi alternatif yang Anda gunakan dengan obat yang diadviskan. Tolong jangan memutuskan sendiri untuk menghentikan obat dengan berasumsi bahwa jenis terapi lain adalah yang terbaik. Kita sepakat bahwa kesembuhan berasal dari Tuhan, tapi sejauh ini secara ilmiah dengan berbagai pertimbangan keilmuan manusia, obat sudah lebih dapat dipertanggungjawabkan. Jika mau menggunakan yang lain, silakan saja asal dikonsultasikan dengan dokter Anda. Jika terapi alternatif itu dapat sejalan, maka dokter Anda akan mengijinkan. Kalo dokter anda kurang memahami interaksi obat dengan jamu atau herbal itu, carilah second opinion atau konsultasi ulang dengan dokter yang farmakolog…

5

Tadi sempat disinggung tentang modifikasi gaya hidup..apa aja sih itu? Prinsipnya sih, healthy lifestyle. Olahraga yang cukup. Makanan yang sehat, batasi penggunaan lemak, gula, dan garam. Menejemen stress. Hindari rokok. Dengan menerapkan gaya hidup yang sehat tersebut, diharapkan tubuh selalu dalam keadaan sehat, termasuk tekanan darahnya juga akan ideal.

Kenapa ada orang yang bisa membaik tensinya hanya dengan modifikasi gaya hidup, dan ada yang harus pake obat seumur hidup?

Secara garis besar, hipertensi ada yang primer dan sekunder. Hipertensi primer adalah hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya. Sebagian besar merupakan kondisi bawaan atau sering disebut akibat keturunan. Ada dugaan terdapat peran faktor genetik. Karena penyebabnya tidak diketahui, dan diduga ada pengaruh genetic, maka ini adalah suatu keadaan yang tidak dapat diubah. Artinya, tubuh memang ‘disable’ untuk meregulasi tekanan darahnya sendiri. Dengan kata lain, dari sononya tubuh memang butuh dibantu oleh obat untuk dapat mengendalikan tekanan darah tersebut. jadi ya wajib minum obat seumur hidup, plus terus menerapkan gaya hidup sehat. Lha dengan gaya hidup sehat aja masih akan tinggi tensinya, apa lagi kalongga sehat…

Bukankah tubuh akan beradaptasi kalo itu keadaan yang diperoleh sejak lahir? Iya, tapi seperti yang dijelaskan tadi, adaptasi itu ada batasnya. Jika kebutuhan untuk beradaptasi sudah melebihi batas kemampuannya, maka yang terjadi bukan lagi keadaan adapted melainkan justru maladapted alias organ justru rusak.

Untuk tipe sekunder, ada keadaan yang mendasari terjadinya hipertensi ini. Bisa karena penyakit lain, gaya hidup yang tidak tepat, ataupun kehamilan. Untuk penyakit lain, hipertensi ini menjadi komplikasinya dan dapat kembali normal jika penyakit dasarnya sudah terselesaikan. Untuk kehamilan, biasanya setelah lahir akan kembali tensinya seperti sebelum hamil walaupun pada sebagian tidak L

Jika hipertensi ini sekunder akibat gaya hidup–dan ini menduduki jumlah yang cukup banyak di populasi—maka bersyukurlah, karena tensi dapat kembali normal hanya dengan memperbaiki gaya hidup saja. Apa saja sih gaya hidup yang memicu tingginya tekanan darah itu?

6

  1. Makanan yang mengandung kadar garam tinggi, juga lemak dan gula tinggi karena dapat meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti hiperkolesterolemia dan diabetes, yang komplikasinya adalah hipertensi. Makanan atau minuman yang bersifat stimulan seperti kopi juga dapat meningkatkan tekanan darah walaupun tidak permanen
  2. Aktivitas fisik yang kurang. Olah raga dapat mempertahankan kondisi tubuh yang baik karena dapat menjaga asupan oksigen yang cukup, pergantian sel yang baik, pembentukan antioksidan yang seimbang dengan radikal bebas, distribusi nutrisi yang baik hingga mencapai tingkat sel. Jadi, orang yang kurang aktivitas fisik dan kurangolahraga tentu akan lebih berisiko mengalami hipertensi
  3. Kurang istirahat, akan menyebabkan kelelahan sehingga keadaan umum tubuh tidak prima, dan akan mudah mengalami peningkatan tekanan darah
  4. Pengaturan stress yang tidak seimbang. Stress itu dibutuhkan untuk meningkatkan kreativitas, inovasi, dan banyak hal positif lainnya, namun jika tidak disertai dengan pengaturan yang tepat, Rangsangan stress tersebut justru memicu keadaan psikosomatis, salah satunya dengan tensi yang meningkat
  5. Rokok. Sudah dipahami bersama bahwa merokok itu berbahaya, baik bagi perokok itu sendiri maupun bagi orang di sekitarnya. Apa sih bahayanya terkait hipertensi ini? Rokok meningatkan radikal bebas dalam tubuh, sehingga melebihi kadar yang dapat ditoleransi oleh antioksidan endogen. Akibatnya, terjadi kerusakan sel yang pada gilirannya akan menimbulkan kerusakan organ. Jika kerusakan itu terjadi di pembuluh darah, maka pembuluh darah akan kehilangan fleksibilitasnya alias jadi kaku, dan berakibat tekanan darahnya meningkat

Semoga tulisan ini bermanfaat buat teman-teman semua…salam sehat penuh cinta,

Ika

One Response so far.

  1. alam says:

    ikas two thumbs up ….